Senior Putri SMK N 2 Wonosari, Humaniskah?

Posted on

Mengapa setiap awal tahun siswa baru di SMK N 2 Wonosari khususnya siswa putri selalu ada yang merasa tidak kuat dengan perilaku para senior putrinya? Sebenarnya ada apa to dengan para senior itu? Apakah keseniorannya membuat pribadinya jadi superior ya?

Sayangnya perilaku itu kadang sengaja dibuat ketika para pembinanya tidak ada, atau memang diupayakan pembinanya tidak tahu, kalau saya boleh katakana istilahnya ‘nyolong’.

Sayangnya lagi para senior itu kadang tidak konsekuen dengan apa yang diomongkannya, mungkin yang tepat sak karepe dhewe! Bahkan kadang para senior itu melanjutkan aksinya ketika sudah sampai dirumah dengan cara mengirim sms yang bernada mengejek, mentertawakan atau malah sangat jorok! Sayangnya ketika diklarifikasi para senior itu dengan tanpa beban menjawab, “kami dulu juga diperlakukan seperti itu”. Gedubrag! Pendidikan macam apa itu? Tidak kreatif atau balas dendam????

Sangat sedikit para senior itu yang betul-betul menjiwai artinya jadi senior! Just on the lips!

Saya pernah sekolah dan saya rasa sekolahku dulu ndak ada senior yang nyakitin, dan semua adik kelas menghormati kakak kelasnya tanpa harus ada saling menindas! Saya dulu juga pengurus OSIS, tapi insya Allah tidak mengurusi hal-hal yang sifatnya pribadi.

Akan saya tuliskan beberapa aturan main siswa putri SMK N 2 Wonosari, yang sayangnya hanya diperlakukan bagi kelas X, dan entah siapa yang bertanggung jawab terhadap aturan itu, katanya turun temurun!

Aturan itu antara lain:

  1. Siswa putri tidak boleh lewat di hutan lindung (katanya caper sama cowok)
  2. Siswa putri tidak boleh jajan di kantin ( apa logis ni?)
  3. Siswa putri tidak boleh pakai parfum, tidak boleh bedakan ( emang seniornya mau?)
  4. Siswa putri rambutnya ndak boleh panjang, kalau tetep dipanjangin mau dipotong sama seniornya  -ini katanya ujung rambutnya lebih panjang dibandingkan ujung jilbabnya, dan ini benar tapi ?(memangnya para seniornya bisa jadi contoh?)
  5. Siswa putri tidak boleh diboncengke siswa putra
  6. Siswa putri tidak boleh berjalan sendirian, minimal 3 orang

Semoga hanya itu saya tidak tega menuliskannya yang lain!

Ketika terjadi pendampingan, pernah saya opsi, keputrian dibubarkan saja sampai ada proposal yang jelas dan program yang pasti. Dan para alumni banyak yang bertanya, lho kenapa Bu?

Ketika ada pengurus OSIS yang konsultasi dengan saya, selalu saya sampaikan, kamu sanggup tidak kalau diperlakukan seperti itu, kalau tidak ya jangan dilanjutkan! Cari aturan yang kamu sendiri bisa konsekuen menjalankannya! Kalau kamu sendiri saja tidak mampu dan tidak mau melakukannya, maka jangan menyuruh orang lain untuk melakukannya!

Para senior, mantan senior,  apa pendapat kalian?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s