Berikan Kebebasan yang Bertanggungjawab

Posted on

Siang tadi saya sharing dengan teman  saya tentang hidup dan kehidupan. Maaf saya akan merahasiakan nama teman saya tersebut, tetapi saya ingin berbagi tentang ‘kehebatannya’ dalam menelan pil pahit kehidupan itu diusianya yang masih belia. Andai hal seperti itu menimpa saya pada usia yang sama mungkin saya tak dapat setegar dia.

Saya memiliki teman yang berasal dari berbagai ragam latar belakang keluarga, ada yang berasal dari keluarga berkecukupan secara materi, berlebih juga ada, tetapi sangat minim juga banyak. Yang memilki latar belakang keluarga yang harmonis juga banyak, single parent melimpah, broken home ada juga, yatim, piatu atau bahkan keduanya, atau hanya berkat kasih sang nenek di desa. Yah, keanekaragaman yang sangat unik inilah yang memerlukan pendampingan yang sangat berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya.

Salah satu teman saya ini adalah korban broken home yang kini telah piatu. Tapi dia tidak pernah mengeluh, dia cerdas, cekatan, dan memiliki karakter yang baik. Orang lain tidak akan merasakan bahwa sebenarnya dia memiliki beban kehidupan yang sangat berat. Sehingga tidak menimbulkan rasa mesakake atau memelas. Sama sekali tak terpancar aura kepenatan itu.

Dia, dua bersaudara yang tinggal terpisah dengan saudaranya karena memang jenjang pendidikan yang harus memisahkan mereka. Ada sepenggal kisah yang sangat mengharukan ketika dia sedang sakit dan saudaranya harus menempuh ujian nasional. Ketika dikonfirmasi bahwa saudaranya berani sendiri di rumah – terpaksa tidak bisa menemani karena sakit- maka ditenteramkan hatinya, “selamat berjuang saudaraku….”

Ternyata saudaranya memutuskan untuk ‘nglaju’ dari Sleman ke Bantul tanpa memberitahu kakaknya (mungkin khawatir akan menambah beban pikiran). Selama menempuh ujian nasional setiap pagi naik bus Trans Jogja sampai di Taman Pintar lalu naik motor sampai di sekolahnya di Bantul. Mungkin kalau usianya sudah kelas 9 atau 12 tidak masalah, lha ini usianya berkisar dua belasan tahun. Gila! Hebat! atau keterlaluan ya?

Apapun komentar kita, saya sebagai seorang ibu yang memiliki putri seusia itu, tak habis pikir, kok bisa ya?

Setelah saya runut ke belakang ternyata, dua bersaudara tersebut memiliki keberanian dan kemandirian karena didikan almarhum ibunya.

Sang ibu yang juga pendidik, tidak pernah melarang anak-anaknya untuk beraktifitas apapun,  yang penting mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka kerjakan. Jadi mereka terbiasa memikirkan terlebih dahulu resiko sebelum melakukan sesuatu.

Namun demikian, keluarga besarnya tidak semuanya dapat menerima hasil didikan ini, karena menurut mereka, dua bersaudara ini banyak membuat ulah.

Nah, para ibu, para pendidik, jika kita menginginkan anak-anak kita lahir dengan kreatifitas yang tinggi maka berikan mereka kebebasan yang bertanggung jawab, bukan aturan-aturan yang mengekang yang akan membuat mereka bak kerbau dicongok hidungnya!

Semoga Bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s