Anak Kita, Cermin Kita

Posted on Updated on

Disarikan dari Hidayah, Maret 2010 dengan perubahan disana-sini

Setiap anak adalah cermin orang tua. Bila nilai kebajikan yang terus disuntikkan, niscaya mereka akan menjelma menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat. Tapi, jika tidak, justru sebaliknya.

Setiap anak memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda, sehingga mereka nampak sebagai makhluk yang unik. Nah, persoalan ini kadang membuat kita, orang tua merasa tak bisa mendidik anak dengan baik. Kadang kita merasa kuwalahan menasihati mereka, kadang mereka tak mengindahkan nasihat ataupun ajakan-ajakan kita.
Sebagai ibu yang berpendidikan tentunya sangat mafhum bahwa dalam mendidik anak tak boleh dengan kekerasan, mendidik anak harus dengan kasih sayang, mencintai anak dengan tanpa syarat (baca juga buku Jangan Pukul Aku).


Kadang mereka sangat pandai beralibi untuk menunda nasihat kita (contoh kecil, tadi sholat jam berapa? Kemudian jawaban mereka…..”belum Buk, bentar, tanggung nih masih seru!”)
Terkadang kita jumpai mereka sangat penurut, tertutup, kadang usil, teriak-teriak, membanting pintu kamar, berbicara kotor, dan masih banyak lagi yang lain yang anehnya kadang tingkah polah mereka membuat kita geli, bangga tapi juga…..senewen!
Yah, namanya juga anak-anak! Begitulah akhirna kita bergumam, dengan segala kasih sayang kita, tingkah polah mereka kita maafkan!
Anak lambat laun akan menyesuaikan diri dengan innovator sekelilingnya, entah itu temannya, gurunya, tokoh kartun, tokoh game kesukaannya, maupun interaksi dengan anggota keluarganya. Pengaruh dari factor tersebut akan selalu membersamainya sampai dewasa kelak. Tinggal kita sebagai orang tua akan mengarahkan factor mana yang akan mendominasi karakter anak-anak kita. Upaya apapun yang akan kita lakukan, teman adalah outsider factor yang pasti akan berpengaruh terhadap karakter anak kita. Namun kita tak boleh berkecil hati karena kita yakini bahwa sejak bangun tidur sampai tidur kembali peranan keluarga masih lebih banyak mendominasi. Bagaimana upaya kita (orang tua) membuat pengaruh positif dalam kesehariannya agar mendominasi karakter pribadinya dibandingkan pengaruh negative lainnya.
Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk pelan-pelan mempengaruhi karakter positif anak, semisal kita tidak boleh maunya menang sendiri menyuruh anak belajar sementara kita nonton sinetron TV atau sepak bola, kita menyuruh jamaah ke masjid sementara kita tak pernah terlihat sholat. Kadang kita egois menyekolahkan anak ke sekolah Islam agar mau berjilbab, bisa ngaji, jadi anak sholih, tapi kita jauh dari semua itu! Bukankah anak akan lebih mudah mencontoh apa yang kita lakukan?
Lalu apa yang harus kita kerjakan?
Belajar berbuat sebagaimana yang kita ingin anak lakukan adalah salah satu solusinya. Konsekuen dengan apa yang kita katakan, berempati terhadap apa yang mereka inginkan kepada kita. Kita tak perlu menjadi orang hebat seperti tokoh idola mereka, tapi menjadi figure teladan bagi mereka.
Sebagian orang tua mempercayai dongeng adalah salah satu wahana untuk membentuk karakter anak, saya rasa itu sah-sah saja, yang penting adalah kita mampu dan berani mengajarkan kepada mereka bahwa tak selamanya tokoh dongeng yang kita ceritakan itu selalu menang, karena tak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Setiap orang pernah berbuat salah dan pasti punya kelemahan. Jadi tidaklah bijak ketika kita mengkultuskan tokoh dongeng untuk selalu menang.
Kerjasama antara ayah dan ibu dalam mendidik anak juga sangat berpengaruh dalam keberhasilannya. Jika antara ayah dan ibu memiliki tingkat kedisiplinan yang berbeda maka ini akan menjadi senjata yang digunakan anak untuk beralibi (baca: menghindar). Karena anak akan mengetahui antara ayah dan ibunya memiliki perbedaan tingkat kedisiplinan. Bagaimana upaya kita untuk selalu kompak dalam mendidik anak, agar tidak terjadi senjata makan tuan.
Ibaratnya kita menjalankan roda organisasi maka dalam menjalin pernikahan maka penetapan tujuan/visi membentuk sebuah organisasi keluarga harus dimantapkan terlebih dahulu. Biasanya pada saat kita ta’aruf dengan calon suami/isteri sudah dapat diketahui sehingga dirasa cocok baru disepakati untuk menikah. Hal ini untuk menghindari kesan leda-lede sehingga anak tidak akan berlari sembunyi dibelakang ayahnya ketika dimarahai ibunya atau sebaliknya. Apalagi ketika si ayah tidak berupaya untuk mendukung sang ibu justru sebaliknya membela anak yang dimarahi si ibu. Jika keadaan seperti ini berulang kali terjadi, kita tidak akan dihargai anak kita sendiri. Kekompakan orang tua ini akan dibawa anak dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Orang tua secara kompak akan memilihkan sekolah yang sesuai dengan visi yang sudah dimilkinya, sehingga alur berfikir antara orang tua dan anak akan sejalan. Dengan demikian kekompakan ini akan membentuk ikatan batin yang positif baik anatara orang tua dan anak.
Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s