Orangtua Perlu Lebih Bijak 12/03/2010 08:26:25

Posted on

MODEL inden (pesanan) yang dilakukan sejumlah orangtua di sejumlah sekolah yang dianggap favorit secara tidak langsung merugikan peserta didik yang lain. Pasalnya selain kesempatan mereka untuk masuk di sekolah tersebut menjadi berkurang, dikhawatirkan proses seleksi akan ditentukan dari besar kecilnya sumbangan.
Supaya kasus tersebut tidak berlarut-larut, pihak-pihak yang terkait khususnya Dinas Pendidikan harus membuat aturan dan sanksi yang tegas bagi sekolah. “Memang dalam hal ini dewan pendidikan tidak mempunyai kewenangan untuk mengatur atau memberikan sanksi. Tapi kami tetap berharap agar ketimpangan dan ketidakadilan yang terjadi dalam dunia pendidikan bisa ditekan,” ujar Ketua Dewan Pendidikan DIY Prof Dr Wuryadi.
Menurut guru besar Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini,  ketimpangan dan ketidakadilan yang sampai saat ini masih mewarnai dunia pendidikan dan  sedikit banyak dipengaruhi adanya persepsi masyarakat tentang sekolah favorit. Kesan tentang sekolah favorit yang dianggap jauh lebih baik dibandingkan sekolah biasa itu menjadi daya tarik tersendiri bagi orangtua. Sampai akhirnya ada beberapa orangtua yang lebih memilih untuk menyekolahkan anaknya di sekolah favorit baik negeri maupun swasta.  Bahkan untuk mewujudkan keinginan tersebut tidak sedikit di antara mereka yang rela mengeluarkan dana cukup banyak.
“Saya kira sudah saatnya, sosialisasi tentang persoalan ini perlu lebih diintensifkan. Dengan adanya imbauan, bahwa sekolah favorit bukan hanya milik golongan tertentu kesenjangan yang terjadi diharapkan bisa ditekan. Memang penyelesaian persoalan ini tidak mudah dan sederhana, tapi saya optimis dengan keseriusan berbagai pihak bisa terwujud,” kata pakar pendidikan ini.
Sedang menurut Sekretaris Persatuan Orangtua Peduli Pendidikan (Sarang Lidi) Yuliani, keluhan terkait mahalnya biaya pendidikan seolah menjadi problem tahunan di kalangan orangtua. Keterbatasan dana yang diberikan oleh pemerintah sering menjadi alasan pembenaran bagi sekolah untuk melakukan penarikan. Padahal biaya pendidikan mahal belum tentu bisa dijadikan jaminan keberhasilan siswa.
Untuk itu, sinergitas dan transparansi dari semua pihak terhadap pengelolaan anggaran pendidikan mutlak diperlukan. Transparansi di sini penting untuk mengantisipasi kebocoran anggaran dan kesenjangan dalam dunia pendidikan.
“Mahalnya biaya pendidikan secara tidak langsung dipengaruhi oleh persepsi masyarakat tentang sekolah favorit dan tidak favorit. Akibatnya tidak sedikit orangtua yang rela mengeluarkan uang sampai jutaan rupiah asalkan anaknya bisa masuk di sekolah favorit,” katanya.
Yuliani menyatakan, sebelum memutuskan untuk mengeluarkan dana sampai jutaan rupiah alangkah baiknya apabila orangtua berpikir ulang dan bersikap lebih bijaksana. Meski mereka merasa tidak dirugikan, adanya istilah sekolah favorit dan pinggiran tersebut menjadikan persaingan menjadi kurang sehat. Karena masyarakat cenderung mengukur baik buruknya sekolah dari mahal biaya yang harus dikeluarkan. Cepat atau lambat kondisi tersebut akan memotivasi sekolah lain untuk melakukan hal serupa. Dampaknya siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu akan menjadi korban.
“Sebetulnya belum tentu siswa yang sekolah di daerah pinggiran kalah dengan mereka yang belajar di sekolah favorit. Untuk itu pola pikir orangtua tentang sekolah favorit sudah saatnya diubah, karena mereka juga dituntut memperhatikan keluarga kurang mampu yang ada di sekitarnya,” sarannya. q-m

(Diambil dari KR Minggu, 21 Maret 2010 tanpa editan sama sekali)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s