LABEL INTERNASIONAL BUKAN JAMINAN ; Sekolah Mahal, Jaga Gengsi atau Kejar Kualitas 12/03/2010 08:26:25

Posted on

LABEL internasional, tampaknya masih menjadi magnet
bagi sebuah lembaga untuk menarik perhatian masyarakat.
Tak terkecuali sekolah yang diembel-embeli kata internasional (baca: Sekolah Bertaraf Internasional) pun laris manis
dan jadi favorit. Namun semua itu jelas ada konsekuensinya,
biaya pendidikan lebih mahal meski dari sisi kualitas
belum jadi jaminan.

Untuk memasuki kelas khusus ini butuh persiapan matang, mulai dari nilai akademik hingga serangkaian tes. Belum lagi soal biaya yang berbeda dari kelas reguler karena ada sejumlah tambahan fasilitas.
Salah satu siswa Medina (13) mengaku sudah mulai menyiapkan diri sejak SD terutama soal nilai dan kemampuan bahasa asing untuk masuk Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Ia pun harus melalui serangkaian tes yang diadakan sekolah, mulai dari tes akademik, psikotes hingga wawancara.
“Persiapannya ya banyak belajar baik akademik maupun psikotes. Saya rajin baca buku dan latihan psikotes. Tapi saya juga tidak melupakan ujian karena nilai ujian sangat penting. Soalnya ada teman yang berhasil melalui serangkaian tes sampai wawancara tapi saat pengumuman ternyata namanya tidak ada, mungkin karena nilai ujian tidak memenuhi,” kata siswi yang duduk di kelas 7 SBI 5 SMPN 5 Yogya ini.
Persiapan masuk SBI tak hanya dilakukan oleh para siswa tapi juga para orangtua siswa. Pasangan Rahmi Rahayu dan Tri Pramuko Librianto pun harus meluangkan banyak waktu untuk ‘wira-wiri’ mengantar anaknya mendaftar SBI kala itu.
“Kami ikut deg-degan sejak mulai pendaftaran. Pokoknya harus menyediakan waktu untuk ke sana-ke mari, jangan lupa berdoa dan persiapan biaya karena biaya kelas SBI beda dengan reguler,” tutur Rahmi.
Lain halnya dengan Nana (33) bukan nama sebenarnya, yang lebih memilih menyekolahkan buah hatinya di sekolah biasa daripada SBI lantaran biaya yang cukup mahal. Karena alasan biaya tersebut ia memilih sekolah binaan dari SBI tersebut. Di SD swasta favorit, biaya infak mencapai Rp 5 juta dengan SPP mulai Rp 200 ribu per bulan.
“Kalau sekolah swasta khan masih ada infak, nah itu yang jumlahnya cukup banyak. Kami keberatan dengan biaya infak yang bernilai jutaan. Akhirnya kami sekolahkan ke tempat lain tapi masih binaan dari sekolah induk,” kata wali murid salah satu SD Muhammadiyah di Yogya Selatan.
Di Kota Yogyakarta, Rintisan SBI tingkat SD baru satu sekolah yakni SD Muhammadiyah Sapen. Sedangkan SMP ada 4 sekolah bertaraf internasional yakni SMPN 5, 8, Pangudi Luhur 1 dan Muhammadiyah 2 Yogya. Dari tahun ke tahun minat siswa masuk sekolah RSBI maupun SBI cukup tinggi.
Salah satu contoh di SD Muhammadiyah Sapen jumlah pendaftar kelas RSBI tahun lalu mencapai 150-200 pendaftar padahal daya tampung 28 siswa. Untuk menyeleksi siswa kelas internasional ini sekolah mengadakan serangkaian tes, mulai dari baca tulis hitung (calistung) dasar hingga psikologi.
Sejumlah orangtua siswa yakin, sekolah bermutu akan menghasilkan anak didik berkualitas. Tak terkecuali sekolah lanjutan tingkat pertama. Mereka mencari sekolah tidak tanggung-tanggung untuk putra-putrinya. Saat ini sekolah yang diburu, SMP dengan kualifikasi RSBI. Di Bantul, ada dua sekolah dengan standar itu, SMP I Bantul dan SMP I Piyungan. Kontan saja dua sekolah tersebut diserbu ratusan pendaftar.
Seperti dikatakan Ny Ismini (42), warga Bakulan Trirenggo Bantul saat ditemui di SMP I Bantul. Ia mengaku sengaja mulai berburu sekolah RSBI lantaran kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan. Menurutnya sekolah berkualitas secara tidak langsung memudahkan siswa dalam menempuh masa depan. Ibu satu putra ini menampik bila dikatakan pilihan menyekolahkan putranya di SMP bertaraf internasional sebagai gagah-gagahan. “Tidak sedikitpun ada rasa gengsi, biar dilihat orang anak saya sekolah di SMP RSBI, tindakan saya ini sebagai bentuk pemberian pendidikan terbaik bagi anak,” ujar Ismini.
Sehingga soal biaya ,telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya dan tidak perlu khawatir dengan biaya yang tinggi yang diterapkan sekolah. Menurutnya, sudah pantas bila sekolah SMP RSBI dengan biaya mahal. Keyakinan itu menilik pada kualitas dan sarana yang tersedia di SMP RSBI. Dengan tegas ia berujar, meski biaya mahal, akan disediakan yang penting kualitas terjamin. “Soal biaya tidak menjadi masalah, bila memang harus mencari pinjaman saya lakukan, asal mutu pendidikan bagus dapat diakses anak saya,” ujarnya.
Meski saat ini sedang getol mendaftarkan putranya di SMP RSBI, ia tidak akan memaksakan diri. Andaikata putranya tidak diterima SMP RSBI, masih ada pilihan lain. Ismini juga tidak memaksakan diri putranya diterima dengan jalan pintas seperti lewat ‘belakang’. “Bila anak saya tidak diterima tidak masalah, dan saya tidak ada upaya main belakang agar anak saya diterima ,” kata Ismini.
Hal sama dikatakan Ny Beni Utami (39), warga Diro Sewon Bantul. Perempuan berbadan tambun itu mengungkapkan, SMP dengan kualifikasi RSBI cenderung memiliki kualitas baik. “Saya menilai, RSBI punya keunggulan dibanding sekolah setara lainnya, tetapi bukan maksudnya yang lain tidak bagus,” ujarnya. Ia secara tegas menolak bila SMP RSBI hanya untuk mencari popularitas belaka. Menurutnya masalah pendidikan bukan soal gengsi, tetapi lebih pada kejelasan masa depan.
Sedang Muhammad Iqbal Rasyid yang ditemui saat mengambil formulir di RSBI SMP I Bantul mengatakan, persiapan yang dilakukan menghadapi ujian masuk RSBI hanya belajar rutin. Khususnya tiga mata pelajaran, IPA, Bahasa Indonesia serta pengetahuan umum. Sementara untuk tes lisan yang perlu disiapkan Bahasa Inggris dan Komputer. “Persaingan masuk RSBI cukup ketat. Namun dengan persiapan matang kesulitan dapat diselesaikan. Yang penting saya tidak lupa berdoa dan belajar serius,” ujar Iqbal.
Hal sama dikatakan Ardi Baskoro Yunarno. Persiapan dilakukan dengan mengikuti les privat, khususnya Bahasa Inggris. Selain itu dengan memperbanyak mengerjakan soal. Ia dengan polos mengatakan, RSBI merupakan sekolah favorit. Sehingga cukup membanggakan bila bisa msuk sekolah RSBI.
Sedang Kepala RSBI SMP I Bantul H Bambang Edy Sulistiyana MPd mengatakan, proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dilakukan secara terbuka. Setiap peserta wajib mengikuti tes sesuai keputusan Direktur Pembinaan SMP Ditjen Mendikdasmen Depdiknas No 0015/C.3/KP/2010 Tentang PPDB SMP RSBI.
Dengan surat keputusan itu kata Bambang, tidak bisa sekolah menentukan siswa yang berhak masuk SMP RSBI diluar ketentuan. “Bila memang tidak sesuai standar jelas tidak masuk, kan proses rekruitmen siswa SMP RSBI ada beberapa tahapan,” ujarnya.
Menurut Bambang, bila seleksi administrasi awal tidak masuk, itu juga mempengaruhi. Karena hasil seleksi administrasi awal tidak bisa ditawar. “Dalam penerimaan siswa SMP RSBI tidak ada istilah main belakang. Selain berbahaya, langkah tersebut akan mengurangi mutu sekolah itu sendiri. Kalau upaya dari sejumlah oknum itu ada, termasuk yang datang ke rumah saya, lebih baik mereka saya suruh pulang,” katanya.
Terkait siswa yang tidak membayar biaya sekolah, ia mengatakan, biaya siswa yang bersangkutan ditanggung pihak sekolah. “RSBI bukan sekolah eksklusif, tidak ada istilah RSBI sekolah untuk anak orang kaya, bila tidak mampu kalau memang anak itu pandai akan kami tanggung semua pembiayaan.
Sementara Kepala SMP 4 Pakem, Woro Triwulan Ambarwati BA mengatakan, pendaftaran kemarin ada sekitar 250 pendaftar. Nantinya kuota yang dibutuhkan sekitar 128 siswa. “Nanti kalau diperbolehkan, kami akan minta tambahan kuota,” katanya.
Menurut Woro, untuk biaya sumbangan selalu disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang sedang dibangun. Jika pembangunan sarana dan prasana sudah selesai, sumbangan saat masuk pasti akan murah. Sedangkan biaya SPP tiap bulannya sekitar Rp 300.000 dan uang bakat Rp 50.000. Biaya ini tidak mahal jika dilihat dari fasilitas yang diberikan.
“Kalau sumbangan, kami sesuai dengan pembangunan sarana dan prasarana. Besok kalau sudah selesai membangun, pasti murah. Sedangkan untuk SPP itu, sudah termasuk biaya semua kegiatan. Jadi kalau ada kegiatan tambahan, siswa tidak perlu membayar lagi,” ujar Woro.
Dikatakan pula, siswa SMP 4 Pakem sudah tidak perlu membeli buku lagi, namun sudah dipinjami dari perpustakaan sekolah. Sistem pembelajarannya sudah menggunakan IT, sehingga siswa bisa men-download jika mencari bahan tugas.
“Untuk kelas 7 dan 8 rata-rata per siswa kami pinjamin buku 16 eksemplar. Buku itu tidak hanya buku reguler, tapi juga buku khusus standar internasional. Tujuannya, siswa tidak ribet lagi mencari buku di luar,” terangnya. q-o
(Diambil dari KR Minggu, 21 Maret 2010 tanpa editan sama sekali)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s