MAKALAH KEWIRAUSAHAAN

Posted on

KONSEP KEWIRAUSAHAAN DAN PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DI SEKOLAH

 

  1. Konsep Kewirausahaan

Konsep kewirausahaan  hingga saat ini masih terus berkembang. Kewirausahan adalah suatu sikap, jiwa dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain. Kewirausahaan merupakan sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarya dan bersahaja dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya.

Seseorang yang memiliki karakter wirausaha selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya. Wirausaha adalah orang yang terampil memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupannya. Norman M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993:5), “An entrepreneur is one who creates a new business in the face of risk and uncertainty for the purpose of achieving profit and growth by identifying opportunities and asembling the necessary resources to capitalze on those opportunities”. Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat, mengambil keuntungan serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih sukses/meningkatkan pendapatan. Intinya, seorang wirausaha adalah orang-orang yang memiliki karakter wirausaha dan mengaplikasikan hakikat kewirausahaan dalam hidupnya. Dengan kata lain, wirausaha adalah orang-orang yang memiliki jiwa kreativitas dan inovatif yang tinggi dalam hidupnya.

Dari beberapa konsep di atas menunjukkan seolah-olah kewirausahaan identik dengan  kemampuan para wirausaha dalam dunia usaha (business). Padahal, dalam kenyataannya, kewirausahaan tidak selalu  identik dengan karakter wirausaha semata, karena karakter wirausaha kemungkinan juga dimiliki oleh seorang yang bukan wirausaha. Wirausaha mencakup semua aspek pekerjaan, baik karyawan swasta maupun pemerintahan (Soeparman Soemahamidjaja, 1980). Wirausaha adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide, dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang (opportunity) dan perbaikan (preparation) hidup (Prawirokusumo, 1997).

Walaupun di antara para ahli ada yang lebih menekankan kewirausahaan pada peran pengusaha kecil, namun sebenarnya karakter  wirausaha juga dimiliki oleh orang-orang  yang berprofesi di luar wirausaha. Karakter kewirausahaan ada pada setiap orang yang menyukai perubahan,   pembaharuan, kemajuan dan tantangan, apapun profesinya.

Dengan demikian, ada enam hakikat pentingnya kewirausahaan, yaitu:

  1. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis (Ahmad Sanusi, 1994)
  2. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulai sebuah usaha dan mengembangkan usaha (Soeharto Prawiro, 1997)
  3. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) dan berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih.
  4. Kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (Drucker, 1959)
  5. Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreatifitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha (Zimmerer, 1996)
  6. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan.

Berdasarkan keenam pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan adalah  nilai-nilai yang membentuk karakter dan perilaku seseorang yang selalu kreatif berdaya, bercipta, berkarya dan bersahaja dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya.

Jadi, untuk menjadi wirausaha yang berhasil, persyaratan utama yang harus dimiliki adalah memiliki jiwa dan watak kewirausahaan. Jiwa dan watak kewirausahaan tersebut dipengaruhi oleh keterampilan, kemampuan, atau kompetensi. Kompetensi itu sendiri ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman usaha. Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa seseorang wirausaha adalah seseorang yang memiliki jiwa dan kemampuan tertentu dalam berkreasi dan berinovasi. Ia adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) atau kemampuan kreatif dan inovatif. Kemampuan kreatif dan inovatif tersebut secara riil tercermin dalam kemampuan dan kemauan untuk memulai usaha (start up), kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang baru (creative), kemauan dan kemampuan untuk mencari peluang (opportunity), kemampuan dan keberanian untuk menanggung risiko (risk bearing) dan kemampuan untuk mengembangkan ide dan meramu sumber daya.

  1. Pendidikan Kewirausahaan di Sekolah

Pendidikan kewirausahaan bertujuan untuk membentuk manusia secara utuh (holistik), sebagai insan yang memiliki karakter, pemahaman dan ketrampilan sebagai wirausaha. Pada dasarnya, pendidikan kewirausahaan dapat diimplementasikan secara terpadu dengan kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah. Pelaksanaan pendidikan kewirausahaan dilakukan oleh kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan (konselor), peserta didik secara bersama-sama sebagai suatu  komunitas pendidikan. Pendidikan kewirausahaan diterapkan ke dalam kurikulum dengan cara mengidentifikasi jenis-jenis kegiatan di sekolah yang dapat merealisasikan pendidikan kewirausahaan dan direalisasikan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.  Dalam hal ini, program pendidikan kewirausahaan di sekolah dapat diinternalisasikan melalui berbagai aspek.

  1. Pendidikan Kewirausahaan Terintegrasi Dalam Seluruh Mata Pelajaran

Yang dimaksud dengan pendidikan kewirausahaan terintegrasi di dalam proses  pembelajaran adalah penginternalisasian nilai-nilai kewirausahaan ke dalam pembelajaran sehingga hasilnya diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, terbentuknya karakter wirausaha dan pembiasaan nilai-nilai kewirausahaan ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi (materi) yang ditargetkan, juga dirancang dan dilakukan untuk menjadikan peserta didik mengenal, menyadari/peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai kewirausahaan dan menjadikannya perilaku. Langkah ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai kewirausahaan ke dalam pembelajaran di seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah. Langkah pengintegrasian ini bisa dilakukan pada saat menyampaikan materi, melalui metode pembelajaran maupun melalui sistem penilaian.

Dalam pengintegrasian nilai-nilai kewirausahaan ada banyak nilai yang dapat ditanamkan pada peserta didik. Apabila semua nilai-nilai kewirausahaan tersebut harus ditanamkan dengan intensitas yang sama pada semua mata pelajaran, maka penanaman nilai tersebut menjadi sangat berat. Oleh karena itu penanaman nilai nilai kewirausahaan dilakukan secara bertahap dengan cara memilih sejumlah nilai pokok sebagai pangkal tolak bagi penanaman nilai-nilai lainnya. Selanjutnya nilai-nilai pokok tersebut diintegrasikan pada semua mata pelajaran. Dengan demikian setiap mata pelajaran memfokuskan pada penanaman nilai-nilai pokok tertentu yang paling dekat dengan karakteristik mata pelajaran yang bersangkutan. Nilai-nilai pokok kewirausahaan yang diintegrasikan ke semua mata pelajaran pada langkah awal ada 6 (enam)  nilai pokok yaitu: mandiri, kreatif pengambil resiko, kepemimpinan, orientasi pada tindakan dan kerja keras.

Integrasi pendidikan kewirausahaan di dalam mata pelajaran dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran. Pada tahap perencanaan, silabus dan RPP dirancang agar muatan maupun kegiatan pembelajarannya memfasilitasi untuk mengintegrasikan nilai-nilai kewirausahaan. Cara menyusun silabus yang terintegrsi nilai-nilai kewirausahaan dilakukan dengan mengadaptasi silabus yang telah ada dengan menambahkan satu kolom dalam silabus untuk mewadahi nilai-nilai kewirausahaan yang akan diintegrasikan. Sedangkan cara menyususn RPP yang terintegrasi dengan nilai-nilai kewirausahaan dilakukan dengan cara mengadaptasi RPP yang sudah ada dengan menambahkan pana materi, langkah-langkah pembelajaran atau penilaian dengan nilai-nilai kewirausahaan.

Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai kewirausahaan sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Dengan prinsip ini, peserta didik belajar melalui proses berpikir, bersikap, dan berbuat. Ketiga proses ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan kegiatan yang terkait dengan nilai-nilai kewirausahaan.

Pengintegrasian nilai-nilai kewirausahaan dalam silabus dan RPP dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut:

  • Mengkaji KI dan KD untuk menentukan apakah nilai-nilai kewirausahaan sudah tercakup didalamnya.
  • Mencantumkan nilai-nilai kewirausahaan yang sudah tercantum di dalam KI dan KD kedalam silabus.
  • Mengembangkan langkah pembelajaran peserta didik aktif yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan melakukan integrasi nilai dan menunjukkannya dalam perilaku.
  • Memasukan langkah pembelajaran aktif yang terintegrasi nilai-nilai kewirausahaan ke dalam RPP.
  1. Pendidikan Kewirausahaan yang Terpadu Dalam Kegiatan Ekstra Kurikuler

Kegiatan Ekstra Kurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah. Visi kegiatan ekstra kurikuler adalah berkembangnya potensi, bakat dan minat secara optimal, serta tumbuhnya kemandirian dan kebahagiaan peserta didik yang berguna untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Misi ekstra kurikuler adalah (1) menyediakan sejumlah kegiatan yang dapat dipilih oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka; (2) menyelenggarakan kegiatan yang memberikan kesempatan peserta didik mengespresikan diri secara bebas melalui kegiatan mandiri dan atau kelompok.

  1. Pendidikan Kewirausahaan Melalui Pengembangan Diri

Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan karakter termasuk karakter wirausaha dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler.

Pengembangan diri yang dilakukan dalam bentuk kegiatan pengembangan  kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, kondisi dan perkembangan peserta didik, dengan memperhatikan kondisi sekolah/madrasah.

Pengembangan diri secara khusus bertujuan menunjang pendidikan peserta didik dalam mengembangkan: bakat, minat, kreativitas, kompetensi, dan kebiasaan dalam kehidupan, kemampuan kehidupan keagamaan, kemampuan sosial, kemampuan belajar, wawasan dan perencanaan karir, kemampuan pemecahan masalah, dan kemandirian. Pengembangan diri meliputi kegiatan terprogram dan tidak terprogram. Kegiatan terprogram direncanakan secara khusus dan diikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Kegiatan tidak terprogram dilaksanakan secara langsung oleh pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah/madrasah yang diikuti oleh semua peserta didik. Dalam program pengembangan diri, perencanaan dan pelaksanaan pendidikan kewirausahaan dapat dilakukan melalui pengintegrasian kedalam kegiatan sehari-hari sekolah misalnya kegiatan ‘market day’ (bazar, karya peserta didik, dll)

  1. Perubahan Pelaksanaan Pembelajaran Kewirausahaan dari Teori ke Praktik

Dengan cara ini, pembelajaran kewirausahaan diarahkan pada pencapaian tiga kompetansi yang meliputi penanaman karakter wirausaha, pemahaman konsep dan skill, dengan bobot yang lebih besar pada pencapaian kompetensi jiwa dan skill dibandingkan dengan pemahaman konsep. Dalam struktur kurikulum SMA, pada mata pelajaran ekonomi ada beberapa Kompetensi Dasar yang terkait langsung dengan pengembangan pendidikan kewirausahaan. Mata pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran yang secara langsung (eksplisit) mengenalkan nilai-nilai kewirausahaan, dan sampai taraf tertentu menjadikan peserta didik peduli dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Salah satu contoh model pembelajaran kewirausahaan yang mampu menumbuhkan karakter dan perilaku wirausaha dapat dilakukan dengan cara mendirikan kantin kejujuran, dsb.

  1. Pengintegrasian Pendidikan Kewirausahaan ke dalam Bahan/Buku Ajar

Bahan/buku ajar merupakan komponen pembelajaran yang paling berpengaruh terhadap apa yang sesungguhnya terjadi pada proses pembelajaran. Banyak guru yang mengajar dengan semata-mata mengikuti urutan penyajian dan kegiatan-kegiatan pembelajaran (task) yang telah dirancang oleh penulis buku ajar, tanpa melakukan adaptasi yang berarti. Penginternalisasian nilai-nilai kewirausahaan dapat dilakukan ke dalam bahan ajar baik dalam pemaparan materi, tugas maupun evaluasi.

  1. Pengintegrasian Pendidikan Kewirausahaan melalui Kutur Sekolah

Budaya/kultur sekolah adalah suasana kehidupan sekolah dimana peserta didik berinteraksi dengan sesamanya, guru dengan guru, konselor dengan sesamanya, pegawai administrasi dengan sesamanya, dan antar anggota kelompok masyarakat sekolah.

  1. Koperasi Siswa

Sembilan dari sepuluh pintu rizki dengan perniagaan ( Umar bin Khatab )

Begitulah landasan yang memacu manusia untuk berdagang, berwirausaha atau apalah sebutannya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Rasulullah pun memenuhi kebutuhan hidupnya juga dengan berdagang. Lantas mengapa kita tak meneladani beliau?

Mari kita urai, seperti apakah kondisi kita sebenarnya?

Tahun 2009, pemerintah memperkirakan angka pengangguran akan naik. Karena itu, angka pengangguran akan direvisi menjadi 8,3 atau 8,4 persen. Sebelumnya, pemerintah menargetkan penurunan angka pengangguran tahun ini mencapai 7-8 persen. Hal itu disampaikan, Minggu (3/5), oleh Deputi Bidang Kemiskinan dan Ketenagakerjaan Bappenas Prasetijono Widjojo di sela-sela Sidang Tahunan Asian Development Bank (ADB) ke-42 di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali.

Menurut Prasetijono, pengangguran tahun ini kemungkinan di atas 8 persen. Tahun lalu, pemerintah menargetkan penurunan angka pengangguran di level 7-8 persen, tetapi besar kemungkinan angka tersebut naik, sekitar 8,3-8,4 persen.

Sulit dimungkiri, masih banyak penduduk Indonesia yang merupakan pengangguran terbuka. Hanya 0.18 persen dari total penduduk Indonesia menjadi wirausahawan. Angka itu sangat jauh tertinggal ketimbang China, yang mencapai dua persen, atau bahkan Singapura dengan jumlah enam sampai tujuh persen. Tanpa wirausaha, perekonomian Indonesia masih akan terus tersendat untuk maju karena, ketimbang rasio jumlah penduduknya, negara kita akan terus kekurangan lapangan kerja.
Sebagai insan yang berpendidikan mari kita tinjau peran kita masing-masing:

  1. GURU

Keterbatasan finansial, itulah gambaran dari profesi guru dan sekolah, memang kenyataannya ada saja guru yang kelihatan lebih makmur, namun tetap saja data di lapangan menunjukan banyaknya guru yang masih hidup sangat sederhana, apalagi mereka yang menjadi guru bakti atau honorer sekolah. Keberhasilan dalam pendidikan seringkali dihubungkan dengan jumlah keuangan / dana yang tersedia. Persoalan lainnya, keterbatasan sekolah untuk mencari usaha-usaha yang tidak memberatkan siswa, ujung-ujungnya, jikapun ada usaha sekolah berakhir pada tingginya iuran ( atau apalah namanya ) yang harus di bayar oleh orang tua siswa. Sebuah survei yang dilaksanakan oleh Center for Entrepreneurial Leadership menemukan 69 % dari siswa SMA berminat memulai bisnisnya sendiri. Walaupun , sekitar 86 % dari siswa menilai bahwa pengetahuan bisnis mereka sangat rendah / sedang-sedang saja ( Jeff Madura ;P. Bisnis ). Data Diknas menunjukan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan semakin rendah minat wirausaha (Balitbang Diknas 2003 ). Dari data di atas menunjukan hal yang wajar jika sekolah belum optimal dalam memanfaatkan potensi dan peluang bisnis yang bisa dilakukan dilingkungan sekolah. Para guru sudah terfokus pada pembelajaran dan tanggung jawab mengajarnya, belum lagi kendala – kendala yang timbul, seperti keterbatasan kemampuan siswa, nilai UN yang semakin lama semakin meningkat, gedung sekolah yang hampir roboh, Perilaku oknum guru yang tidak memberi teladan dan banyak hal lainnya, yang membuat mereka tidak punya waktu berpikir mencari peluang usaha sekolah. Namun, tanpa mengabaikan seluruh permasalah yang ada dan keterbatasan minat para guru, hendaknya sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat memberikan kontribusi untuk membiayai operasional sekolah, minimal menghasilkan dana untuk membantu kegiatan-kegiatan sekolah dan syukur jika sampai dapat memberikan kontribusi keuangan pada guru-gurunya.

Shifting Business Paradigm di sekolah, membuka wawasan sekolah dalam menciptakan peluang bisnis namun tetap mengindahkan aturan-aturan yang berlaku. Lahirnya bisnis sekolah sebagai solusi untuk membantu operasional sekolah dan menambah penghasilan guru, tapi ingat!, munculnya bisnis ini jangan sampai merugikan hak-hak siswa dan orang tua dalam pendidikan. Jangan sampai menyelesaikan sebuah masalah tetapi menimbulkan masalah baru. Terbentuknya bisnis sekolah diharapkan bukan menjadikan siswa konsumtif, tetapi harus memberi pengaruh positif seperti membelanjakan uang sesuai dengan kebutuhan dan prioritasny

 

  1. SISWA

Sesuai dengan permendiknas nomor 39 tahun 2008 tentang pembinaan kesiswaan, sekolah berkewajiban untuk memfasilitasi para siswanya untuk meningkatkan kreativitas sesuai dengan minat bakatnya melalui kegiatan berwirausaha menggunakan wadah koperasi Osis. Koperasi osis selanjutnya saya sebut dengan Kopsis merupakan laboratorium bagi siswa untuk merencanakan, menjalankan dan mengendalikan usaha para anggotanya yaitu siswa. Para siswa diberikan arahan bagaimana membentuk sebuah koperasi (tentunya belum berbadan hukum) melalui musyawarah, kemudian mengidentifikasi usaha yang mungkin dapat dijalankan. Tentunya berorientasi pada kebutuhan siswa di sekolah, baik yang sifatnya pribadi maupun kelompok. Para siswa dapat membuat kelompok piket usaha yang sifatnya periodik. Mulai dari menyusun rencana barang yang akan dijual, siapa yang akan membuat, bagaimana sistem menjualnya, dan lain sebagainya. Sebaiknya keuntungan tidak dikembalikan seluruhnya kepada siswa yang membuat barangnya, namun ada sebagian yang disisihkan sebagai cadangan modal kelompok. Apabila dirasakan masing-masing kelompok sudah berjalan bagus, kemudian cadangan modal dari sisa keuntungan yang tidak dibagi tadi dikumpulkan, maka terbentuklah sebuah gabungan usaha. Jika kondisi demikian yang sudah terjadi maka tinggal membentuk koperasi siswa.

Kita semua mafhum bahwa koperasi merupakan soko guru perekonomian negara kita, jadi sebaiknya kita mengenal dunia koperasi sejak dini sesuai dengan kompetensi kita masing-masing.

 

Di Jakarta, sekolah swasta ada yang menyelenggarakan kegiatan berwirausaha sudah ditanamkan sejak SD kelas I. Mereka diajari untuk memiliki mental berwirausaha, mulai dari menjual donat, jepit rambut bahkan hanya selembar kertas harvest (isi binder). Bapak dan Ibu Guru mereka tidak mentargetkan keuntungan yang diperoleh, tetapi menanamkan kompetensi berhitung, bernegosiasi dan menyiapkan mental berwirausaha.

Bahkan pada sekolah yang kompleks (SD,SMP,SMA) terdapat penukaran uang dengan koin, karena anak SD kelas I baru mampu berhitung dengan dua digit angka, alat pembayarannya diubah dengan koin.

Hal ini perlu kita ambil hikmahnya bahwa berwirausaha tidak perlu menunggu ketika kita lulus SMK, semakin dini kita melatih diri kita maka mental kita sudah semakin melekat.

 

Kita juga harus sadar bahwa kota yang selama ini _barangkali- kita idam-idamkan sebagai pelabuhan hidup, dimana kebanyakan menggantungkan penghidupannya di sana, Jakarta, sudah jenuh penduduknya, disepanjang waktu sudah macet, dan banjir. Akankah kita menambah parahnya Jakarta, lantas siapa yang akan membangun Gunungkidul?

Kita sebagai generasi mudalah yang kelak akan melanjutkan tampuk kepemimpinan Gunungkidul, jika kota ini kalian tinggalkan, maka tunggu 20 tahun lagi, Gunungkidul pasti sudah dikuasai investor asing, dan kita hanya mampu jadi “jongos” mereka atau bahkan kita Cuma mampu gigit jari!

 

So, what will we do?

  1. Disiplin waktu
  2. Mulai kerjakan dari sekarang, jangan hanya memikirkan kapan selesainya!
  3. Positive thinking
  4. Kuasai diri sendiri
  5. Modal terbesar yang kita miliki adalah badan yang sehat dan lengkap

 

Bagaimana memulai usaha di sekolah?

  1. Cermati kebutuhan teman-teman sekelilingmu!
  2. Bagaimana mereka memenuhi kebutuhan tersebut?
  3. Tawarkan diri anda untuk menyediakan kebutuhan mereka
  4. Take action!
  5. Intip informasi kegiatan sekolahmu, ambil peluang usaha yang menghadang!
  6. Buat networking seluas-luasnya!
  7. Bersedekahlah, supaya Allah membuka pintu rezeki lebih luas
  8. Sholat dhuha bagi yang beragama islam

Pengembangan nilai-nilai dalam pendidikan kewirausahaan dalam budaya sekolah mencakup kegiatan-kegiatan yang dilakukan kepala sekolah, guru, konselor, tenaga administrasi ketika berkomunikasi dengan peserta didik dan mengunakan fasilitas sekolah, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, komitmen dan budaya berwirausaha di lingkungan sekolah (seluruh warga sekolah melakukan aktivitas

Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai kewirausahaan sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Dengan prinsip ini peserta didik belajar melalui proses berpikir, bersikap, dan berbuat. Ketiga proses ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan kegiatan yang terkait dengan nilai-nilai kewirausahaan.

===========

Sumber: Adaptasi dan disarikan dari:

Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas. 2010.  Pengenbangan Pendidikan Kewirausahaan; Bahan Pelatihan  Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Jakarta.

ZAINAL UMURI, Wirausaha Sekolah, sahabatguru, http://id.wordpress.com

Mengintip praktek wirausaha di sekolah global mandiri, MajalahFranchise.com

KOMPAS.com

REMIDIAL KELAS X KJ

Posted on

Kepada para siswa yang remidi, berikut soal untuk kalian kerjakan, ini adalah soal bagi kalian yang remidi Ulangan Harian 1 REMIDIAL TEST UH KERAJINAN; sedangkan berikut ini adalah untuk remedial ulangan harian yang kedua REMIDIAL TEST ULANGAN HARIAN STRAND REKAYASA; sedangkan yang berikut adalah soal untuk remedial ulangan tengah semester REMIDIAL TEST ULANGAN TENGAH SEMESTER

Silakan download soalnya, jawaban dikumpulkan hari Selasa tanggal 9 Desember 2014 pukul 08.00

Ibu mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, sukses untuk kalian semua

Amanat Pembina Upacara, 21 April 2014

Posted on

Tadi pagi, Senin 21 April 2014, untuk yang kesekian kalinya saya mendapatkan tugas sebagai Pembina upacara dalam rangka peringatan Hari Kartini di SMK Negeri 2 Wonosari.

Setelah selesai upacara, ada beberapa teman yang menanyakan teks amanat saya, maka berikut saya sampaikan tulisan yang saya bacakan tadi, semoga dapat menjadi bahan renungan kita bersama:

Terima kasih untuk teman-teman dan para siswa SMK Negeri 2 Wonosari atas dukungannya!

SMK 2 JAYA!

Bismillahirohmanirrohiim
Assalamu’alaikum wr. Wb.
Robbis rohli sodri waya sirli amri wah lul ‘uk datammillisani yafqohu qouli
Bapak Kepala Sekolah , Bapak /Ibu guru dan pegawai yang kami hormati
Para siswa yang kami banggakan
Puji syukur Alhamdulillah, pada hari ini kita masih diberikan kesempatan oleh Allah ta’ala untuk melaksanakan upacara dalam rangka memperingati hari lahir Ibu Kartini, salah satu pejuang wanita yang tanggal lahirnya selalu diperingati oleh republik ini.
Kita tidak perlu bersengketa mengapa hanya tanggal lahir Ibu Kartini yang diperingati, padahal banyak pejuang wanita lainnya yang turut serta menegakkan bumi Indonesia ini.
Pastilah ada keistimewaan yang dimiliki Kartini, yang menjadikan dunia mengakui keberadaannya.
Dan hari inipun istimewa karena petugas upacara sebagian besar wanita, hal ini adalah salah satu bentuk apresiasi dari sekolah, meskipun kaum hawa adalah minoritas di sekolah ini namun mendapatkan kesempatan dan perlakuan yang sama.
Para siswa juga istimewa karena hari ini kalian mengenakan pakaian batik, agar kalian semua dapat ikut serta menjunjung kearifan local.

Bapak / ibu, serta para siswa!
Kaum perempuan sudah mendapatkan tempat yang istimewa sejak kepemimpinan Muhammad rosulullah, jadi bukan mengada-ada ketika hingga saat ini perempuan mendapatkan perhatian yang istimewa.
Kini diera digital sekarang ini kita harus lebih istimewa, terus belajar melengkapi kompetensi yang diperlukan baik untuk kehidupan diri kita sendiri, bermasyarakat, bernegara maupun kehidupan didunia pendidikan.
Dunia pendidikan yang diperjuangkan oleh para pendahulu kita, menuntut kita sebagai pendidik untuk memiliki kompetensi yang kompleks, bukan sekedar kemampuan untuk mengajar namun juga kemampuan kita untuk menjadi agen perubahan.
Para siswa yang berada di hadapan kita ini dipercayakan oleh orang tua mereka untuk kita bekali dengan pengetahuan dan ketrampilan, namun sekaligus harus kita ubah menjadi lebih baik, agar mereka mampu menerima estafet perjuangan menegakkan republic tercinta ini. Sistem seperti ini dapat terjadi apabila masing-masing komponen menjalankan tugas dan kewajibannya secara maksimal.

Salah satu petikan surat Kartini tertulis demikian, “Aku pikir adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.” Dialog ini merupakan protes Kartini ketika disuruh menghafal ayat-ayat Al Qur’an yang tidak diketahui maknanya. Karena pada jaman itu pemerintah Belanda melarang beredarnya terjemah Al Qur’an.
Para siswa sekalian, belajar bukan hanya kepentingan guru, namun lebih kepada kebutuhan kalian untuk menemukan ilmu-ilmu baru yang akan kalian gunakan untuk menjemput rezeki. Masih sangat disayangkan sebenarnya apabila kalian berada di sekolah ini merasa terpaksa, sehingga kalian merasakan siksaan yang berkepanjangan. Apalagi jika kalian melakukan kesalahan dengan melanggar tata tertib, yang itu berarti kalian menyiksa diri kalian sendiri. Untuk dapat mewujudkan menjadi lebih baik harus kalian siapkan sejak pertama kali menginjakkan kaki disekolah ini. Aku datang mau belajar.!
Bukankah Allah memberikan kita akal untuk berfikir?, tetapi kadang kita terjebak oleh pagar yang kita buat sendiri, sehingga kita kadang melupakan bahwa di luar pagar ternyata ladang ilmu tak terbatas.

Para siswa sekalian yang saya banggakan!
Berfikir dan mengemukakan pendapat kadang adalah sesuatu yang menakutkan buat kita, apalagi jika kita merasa bahwa pendapat kita berbeda, sungguh adalah sebuah ketakutan untuk mengatakannya, padahal untuk menjadi istimewa kita harus berani berbeda, berani lebih unggul dari yang lain. Untuk menjadikan sekolah ini unggul kita harus berbeda dari yang lainnnya.
Mungkin kita perlu membuka mata lebih lebar kalau ternyata di atas itu ada motivasi, di bawah ada rasa syukur, di samping ada kepedulian, di belakang ada pengalaman dan di depan adalah perjuangan.
Kita tidak hidup dan tinggal disekolah ini sendirian, ada banyak teman yang bersama kita, dari sanalah kita juga belajar, belajar bersyukur, belajar peduli, belajar dari masa lalu, dan berjuang untuk masa depan.
Dengan belajar pulalah Kartini mendapatkan pencerahan, “Selama ini Al Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab romo kyai telah menerangkannya dalam bahasa jawa yang saya pahami,” ungkap beliau. Maka Habis gelap terbitlah terang digunakan sebagai judul buku Kartini yang tersohor itu.

Bapak Kepala Sekolah
Bapak/ibu yang kami hormti
Para siswa sekalian!
Mari kita bangun negeri kita ini, melalui hal-hal kecil yang dapat kita lakukan, tak usahlah kita menunggu esok ketika kita sudah memiliki jabatan, karena esok adalah rahasia Allah yang tak dapat kita ketahui.
Kita tak perlu mencaci kelemahan dan keburukan orang lain, tetapi marilah kita optimalkan kelebihan kita masing-masing, kita kembangkan potensi yang kita miliki untuk menjadikan generasi penerus kita ini menjadi generasi rabbani, cerdas dalam berfikir, kuat dalam karakternya.
Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya (QS Al Baqoroh :257)
Allohu waliyyulladziina aamanuu yukh rijuhum minadhdhulumaati ilan nuur
Semoga Bermanfaat!
Wassalamu,alaikum wr wb

Dari beberapa sumber

Pedoman Penyusunan Proposal Kegiatan dan LPJ

Posted on

Setiap kegiatan yang akan kita laksanakan sudah seharusnya kita buat rencana yang akan digunakan sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan tersebut. Ada berbagai macam ragam penulisan rencana kegiatan tersebut, mulai dari yang berbentuk paling sederhana sampai dengan bentuk yang paling rumit.

Tulisan ini kami sajikan untuk anak-anakku pengurus OSIS, Rohis dan Dewan Ambalan Penegak SMK Negeri 2 Wonosari yang akan melaksanakan tugas barunya. Beberapa hal perlu penambahan penjelasan di sana sini, namun demikian tulisan ini semoga dapat menambah wawasan dalam merencanakan dan melaporkan kegaiatan tersebut.

Berikut ini tulisannya :

PEDOMAN PENYUSUNAN PROPOSAL DAN LAPORAN KEGIATAN SISWA

Prakarya dan Kewirausahaan

Posted on

Sudah menapaki bulan ketiga dalam semester ini, dan hingga hari ini, saya benar-benar menemukan arah yang tidak jelas dalam menelaah KI dan KD yang saya terima dalam mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan.

Program semester belum mampu saya susun apalagi program tahunan! Artinya saya mendidik siswa sesuai dengan kemampuan saya yang terbatas dalam memahami kalimat-kalimat yang tertuang dalam KI dan KD mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan.

Kebetulan saya sudah mengampu mata pelajaran Kewirausahaan hampir enam belas tahun, tetapi untuk mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan ini jian benar-benar ngungun saya, karepe piye? 

Saya tanya putriku yang juga kelas X di SMA, pelajaran PDK (Prakarya dan Kewirausahaan) diampu oleh guru Seni Budaya diberikan materi tentang desain batik untuk membuat taplak meja ( lima buah desain), wadew lha kok juga sudah berbeda dengan KD yang saya baca, mungkin juga untuk SMA ini adalah mata pelajaran baru yang gurunyapun pasti belum ada dan belum berpengalaman!

Saya googling juga menemukan di SMA mapel PDK ini diampu oleh guru TIK yang jamnya sudah hilang, wah wah wah!

Mereka lebih menekankan pada desain grafis menggunakan Corelldraw, lalu nanti di cetak untuk membuat batik!

He he, lha disekolah saya ada lima orang guru Kewirausahaan, empat diantaranya mengajar PDK untuk kelas X, tetapi saya yakin seyakin yakinnya bahwa kami berempat memberikan materi yang berbeda kepada mereka, sesuai dengan persepsi kami masing-masing, arep dadi opo nek ngene iki terus?

Hmm sebenarnya apa ya yang dimaui oleh penyusun kurikulum ini?Image

KISI-KISI UKG 2012 KEWIRAUSAHAAN

Posted on

Untuk mempersiapkan diri mengikuti program pemerintah Uji Kompetensi Guru tahun 2012 tidak ada salahnya kita mencoba kisi-kisi yang saya download dari teman, mengingat saya memperolehnya dengan susah payah maka saya berkeinginan untuk mempermudah teman-teman sesama pengampu mata pelajaran Kewirausahaan SMK yang membutuhkan untuk dapat mendownload kisi-kisi 331-KEWIRAUSAHAAN-SMK  UKG 2012

Semoga bermanfaat!

RPP KEWIRAUSAHAAN KD 1.1

Posted on

Menjelang tahun pelajaran baru 2012/2013 guru dituntut untuk membuat perangkat mengajar yang kalau dibayangkan tidak ada habisnya. Salah satu perangkat mengajar adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran kita biasa menyebut dengan RPP saja biar cepet dan jelas.

Terdapat beberapa versi dalam penyusunannya, yang penting berdasar acuan yang jelas, standar proses misalnya, sehingga apa yang kita buat sesuai dengan tujuan pendidikan di Indonesia.

RPP yang benar adalah RPP yang dapat kita gunakan sebagai petunjuk/pembimbing  mengajar di kelas, oleh karena itu dimungkinkan terdapat beberapa versi disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran dan siswanya.

Kadangkala RPP juga dapat disesuaikan dengan ‘selera’ pengawas sekolah selayaknya ketika kita membuat skripsi atau tesis disesuaikan dengan pembimbingnya! Namun demikian kita dapat membuat RPP sesuai dengan selera kita, atau sesuai dengan bekal yang diperolah pada saat mengikuti diklat yang membahas tentang penyusunan RPP. Jadi menurut hemat saya, tidak ada RPP yang salah, yang ada adalah lengkap atau tidak lengkap! semakin lengkap kita membuat RPP tentunya akan semakin enak juga dalam menggunakannya. Nah, tinggal kita mau yang seperti apa, enak dalam menggunakan atau enak dalam menyusun. itu adalah pilihan!

Yang perlu menjadi catatan adalah antara RPP tahun lalu dengan RPP tahun berjalan harus ada upaya perbaikan. Jika RPP hanya copy paste dan hanya ganti tahunnya saja berarti kita sudah mendholimi peserta didik, kita tidak mau belajar, kita tidak mau berubah. Bagaimana kita dapat mengajar dengan baik kalau membuat RPP saja kita malas, apalagi hanya copy paste!

Keadaan semacam ini biasanya dipengaruhi oleh Kepala Sekolah, jika seorang Kepala Sekolah tidak berupaya mengadakan perbaikan ya stafnya juga hanya akan stagnan. Buat apa susah-susah lha wong sama dengan yang dulu saja juga ditandatangani! Syukur-syukur membuat, lebih parahnya lagi kalau tidak membuat saja sertifikasinya bisa cair! Hmmmm….

Berikut ini akan saya sampaikan contoh RPP untuk mata pelajaran kewirausahaan kelas X, bagi bapak/ibu yang akan menyusun barangkali contoh ini dapat digunakan sebagai referensi.

Silakan download 1_1 IDENTIFIKASI SIKAP DAN PERILAKU WIRAUSAHA!

Semoga bermanfaat!