AMANAT PEMBINA UPACARA PADA PERINGATAN HARI KARTINI DI SMK NEGERI 2 WONOSARI SABTU 21 APRIL 2012

Posted on

 

Tadi pagi seperti tahun-tahun yang lalu SMK Negeri 2 Wonosari menyelenggarakan kegiatan dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Kartini, salah satu kegiatan berupa upacara bendera. Nah kebetulan beliau Bapak Sangkin selaku Kepala Sekolah melalui Bapak Dwi Rahardjo selaku wakil kepala urusan personalia dan sarana prasarana, menugaskan kepada saya untuk menjadi pembina upacara, berikut ini amanat yang saya sampaikan:

 

Assalamu’alaikum wr wb

Salam sejahtera bagi kita semua,

Alhamdulillah mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt karena pada pagi hari ini kita dapat melaksanakan upacara peringatan hari lahir ibu Kartini. Satu abad yang lalu wanita agung ini perjuangannya membawa pencerahan bagi kita semua khususnya para perempuan.

Bapak Kepala Sekolah yang terhormat, Bapak Ibu Guru dan karyawan yang saya hormati dan para siswa yang kami banggakan,

Memaknai peringatan hari kartini tidak hanya disimbolkan dengan memakai kebaya atau pakaian adat lainnya, pastilah bukan seperti itu yang diharapkan oleh beliau pada saat beliau hidup. Kita teladani perjuangan beliau, semangat dan keinginan untuk kemajuan sesama, perempuan utamanya. Sesuai bidang pekerjaan kita masing-masing tentunya, dengan cara sebaik-baiknya.

Menjadi baik kadang-kadang memang harus berbeda dengan yang lain atau tidak selamanya harus selalu sama, seide sependapat. Justru ketika kita memiliki perbedaan maka kemajuan itu akan diperoleh. Ibu Kartini juga berbeda dengan kaum perempuan lain pada jamannya, beliau ingin bersekolah meski sudah dipingit, belaiu memiliki ide, wawasan yang berbeda yang tidak dimiliki teman-teman sebayanya. Tidak perlu takut dengan perbedaan!

Bagi para siswa memaknai peringatan hari kartini tentunya disesuaikan dengan bidang tugasnya masing-masing, ada beberapa hal yang akan saya sampaikan kepada para siswa :

  1. Para siswa, seusia kalian adalah masa transisi sebagai pintu gerbang perubahan kehidupan dari seorang anak menuju kehidupan orang dewasa. Hal ini tentu akan membawa dampak perubahan pada semua sektor kehidupan kalian, pengaruh dari lingkungan eksternal kalian , akan sangat mempengaruhi gaya hidup kalian. Perubahan fisik juga akan mempengaruhi perubahan hormonal kalian. Hal ini bukan berarti kalian sudah boleh melakukan apa yang dilakukan oleh orang dewasa, tetapi bagaimana kalian berusaha mengatasi perubahan-perubahan tersebut secara bijak. Lihatlah satu atau dua tahun kebelakang kalian masih mengenakan seragam biru putih, pun pada saat itu kalian sudah merasa bangga karena sudah kelas 9, sudah memiliki adik kelas, dan kini ketika kalian mengenakan seragam abu-abu putih tambah banggalah kalian, karena merasa sudah beranjak dewasa. Lingkungan pertemanan pun sudah meluas setingkat kabupaten bahkan lintas propinsi. Bukankah ini tanda-tanda bahwa banyak sekali perubahan yang terjadi pada diri kalian.
  2. Seusia kalian sudah dituntut berfikir lebih dewasa, mandiri, matang dalam bersikap dan bertingkah laku. Kemandirian bukan diartikan sebagai bebas tanpa aturan dan bimbingan orang tua, bukan pada tempatnya apabila kalian sudah menganggap bahwa nasihat dan bimbingan orang tua tidak diperlukan lagi, justru pada usia transisi ini kalian memerlukan banyak bimbingan dan arahan agar mampu memilih dan memilah secara tepat. Disinilah kadang kalian merasa didikte orang tua, dipantau atau bahkan dimata-matai, sehingga sering timbul perselisihan dengan orang tua.
  3. Para siswa sekalian, kalian juga sudah mampu berfikir menggunakan ratio, mulai menyingkirkan ego dalam proses pengambilan keputusan, bahasa kerennya kalian berada pada masa pancaroba pemikiran. Gunakanlah kemampuan kalian untuk melahirkan ide-ide yang cemerlang. Kalian jangan hanya terpuruk pada mindset yang negatif. Tuhan Allah tidak membedakan kita ini anak orang miskin, orang kaya, orang cerdas atau orang cacat sekalipun, Allah akan membedakan kita sesuai dengan derajat taqwa kita dan semua yang tau adalah Allah. Kita berada dilingkungan ini juga tidak ada kelas anaknya orang miskin, anaknya PNS, anak pengusaha, semua berbaur menjadi satu. Tidak ada yang diistimewakan. Berbeda dengan masa kehidupan Ibu Kartini, hanya anak-anak keturunan ningrat saja yang boleh bersekolah. Kita jangan hanya terpuruk pada asumsi bahwa kalian besuk “hanya” akan jadi buruh pabrik, hanya akan jadi tukang batu, hanya akan jadi karyawan PT. Kalian memiliki waktu dan kesempatan yang sama, sehingga munculkanlah ide-ide yang brilian untuk kemajuan OSIS kita, Kerohanian kita, Palasit, PMR, Pramuka dan semua kegiatan siswa di SMK 2 Wonosari agar ada kenang-kenangan yang membanggakan, ada yang diingat ketika kalian sudah menjadi alumni. Saya yakin, Ibu Kartini jika melihat generasi Indonesia seperti itu pasti akan tersenyum bangga. Hindarilah budaya pacaran, pergaulan bebas, merokok apalagi tawuran, hiasilah lembaran-lembaran masa remaja kalian dengan tinta emas dengan prestasi yang membanggakan!

Bapak Kepala Sekolah yang terhormat, Bapak Ibu Guru dan karyawan yang saya hormati dan para siswa yang kami banggakan,

Sebagai guru dan tenaga kependidikan ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membersamai para remaja yang sudah dipercayakan oleh kedua orang tuanya kepada kita, untuk kita didik ;

  1. Berilah kepercayaan kepada para siswa untuk memilih. Kita tidak harus selalu merasa bahwa mereka masih anak-anak yang harus selalu mendapatkan bimbingan dan cekokan, mari kita didik mereka seperti kita menerbangkan layang-layang, ketika ada kesempatan kita berikan seluas-luasnya tetapi ketika kesempatan itu membahayakan maka kita gulung benang agar layang-layang itu tidak jatuh atau sobek. Kepekaan kita sebagai tenaga kependidikan yang profesional memang sangat perlu kita kuasai, hal ini dapat dilakukan dengan belajar, belajar dan belajar!
  2. Kita berusaha mengedepankan komunikasi dan dialog dan jangan terburu-buru menyalahkan mereka, kita selalu tanyakan alasan atas sebuah pemikiran anak, agar melatih berargumentasi  dan memunculkan kepercayaan diri mereka. Ada diantara para siswa atau anak yang merasa sakit hati karena secara tidak sadar, kita- baik sebagai orang tua maupun sebagai tenaga kependidikan- merendahkan kepercayaan diri mereka sehingga membekas hingga dewasa.
  3. Jika anak melakukan aktivitas yang menurut kita salah maka kita berusaha memberikan alasan yang tepat dan kita berusaha berlapang hati menerima keputusan anak, apakah anak akan memilih berhenti atau melanjutkan aktivitas mereka. Tidaklah bijaksana kita sebagai orang tua melarang anak tanpa memberikan alasan yang rasional  karena ketika dilarang justeru mereka akan melakukannya bahkan mungkin lebih fatal akibatnya. Ketika Ibu kartini dilarang untuk bersekolah karena memasuki masa pingitan, beliau tetap gigih menulis surat kepada sahabatnya Mr JH Abendanon. Sungguh sebuah keinginan yang tak dapat dipagari dengan adat yang berlaku. Tetapi justru hal ini yang dapat membuat perubahan besar bagi bangsa Indonesia dulu hingga kini.

Kita sebagai keluarga besar SMK N 2 Wonosari sebagai suatu sistem yang akan berjalan dinamis manakala sistem itu menjalankan fungsinya masing-masing. Ibarat tubuh manusia, kita adalah satu, diantara kita ada yang menjalankan fungsinya sebagai kaki agar langkah sekolah kita tidak berhenti, ada diantara kita yang berfungsi sebagai tangan, berfungsi sebagai mata, telinga dan lain sebagainya. Dan diantara kita pasti ada yang menjalankan fungsinya sebagai jantung meskipun fungsinya sangat fatal tetapi tidak harus nampak dari luar, yang berfungsi sebagai paru-paru juga tidak harus berada diluar tubuh. Kita yang berada di sini tidak ada yang merasa dirinya paling penting, semua dari kita penting keberadaannya. Siswa memerlukan teman, membutuhkan guru, membutuhkan cleaning servis, membutuhkan kantin, memerlukan jasa foto copy dan lain sebagainya, demikian pula sebaliknya kepala Sekolah akan berfungsi jika ada yang dipimpin, guru dapat mengajar jika ada siswa, tenaga kependidikan akan bekerja karena ada yang dilayani yaitu guru dan siswa. Bahkan jayengan/patehan pun sangat dibutuhkan kesigapannya, karena kita semua membutuhkan segelas teh yang dihidangkannya. Jadi kita semua memiliki kedudukan yang sama pentingnya.

Artinya tidak semua dari kita baik siswa, guru maupun karyawan harus menonjolkan diri atau menampakkan diri, tidak semua harus berada di depan seperti satpam, tetapi meskipun di dalam tetap menjalankan fungsinya agar sistem yang berada di sekolah kita berjalan dengan dinamis.

Akhirnya marilah saya mengajak diri pribadi saya, para siswa, Bapak Ibu Guru dan tenaga kependidikan untuk lebih meningkatkan kinerjanya masing-masing seirama dengan semangat juang Ibu Kartini.

Kurang lebihnya mohon maaf

Wassalamu’alaikum wr wb

 

SRI WINARTI

Dari berbagai sumber

 

 

One thought on “AMANAT PEMBINA UPACARA PADA PERINGATAN HARI KARTINI DI SMK NEGERI 2 WONOSARI SABTU 21 APRIL 2012

    wonosari said:
    April 21, 2012 pukul 12:43 pm

    Semoga tambah semangat untuk siswa didik SMKN 2 wno

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s